ZoyaPatel

Angin Duduk Bisa Menjadi Sinyal Bahaya Gangguan Otot Jantung

Mumbai
An abstract 3D digital illustration of a human heart with glowing red and blue blood vessels, highlighting a localized area on the coronary artery with a warm yellow glow representing a blockage, set against a dark clinical background with subtle medical data interfaces.
Angin Duduk Bisa Menjadi Sinyal Bahaya Gangguan Otot Jantung

UPBERITA.COM - Dokter spesialis jantung dr. Febtusia Puspitasari mengimbau masyarakat Jakarta untuk mewaspadai angin duduk atau angina pektoris karena kondisi tersebut menjadi sinyal adanya gangguan pasokan oksigen pada otot jantung akibat sumbatan pembuluh darah. Penjelasan mengenai bahaya dan pemicu penyakit ini disampaikan dalam sebuah diskusi kesehatan guna meningkatkan kesadaran publik terhadap risiko serangan jantung.

Angina pektoris merupakan kondisi medis ketika jantung tidak mendapatkan aliran darah yang membawa oksigen dengan cukup. Padahal, organ vital ini membutuhkan asupan nutrisi dan oksigen secara konstan dari pembuluh darah agar dapat berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh dengan normal.

"Kalau pembuluh darahnya terhambat, yang terjadi berarti ada otot jantung yang enggak dapat pasokan oksigen secara utuh. Kalau kekurangan pasokan, maka otot itu akan jerit, itulah makanya terjadi suatu angina, jadinya rasa nyeri," kata Febtusia dalam diskusi di Jakarta pada Selasa (9/6/2026). Gejala ini biasanya dirasakan sebagai sensasi dada tertekan benda berat yang menimbulkan rasa sangat tidak nyaman bagi penderitanya.

Istilah angin duduk sendiri diperkirakan muncul dari kebiasaan penderita yang refleks mencari posisi duduk tegak demi meringankan sesak napas. "Kalau orang terkena angina ini, itu biasanya dia susah untuk tiduran santai ataupun susah untuk nafas dengan nyaman. Dia berusaha untuk duduk, memperbaiki posisi, makanya mungkin inilah muncul istilah angin duduk itu," tutur Febtusia pada Selasa (9/6/2026).

Faktor Risiko Angin Duduk

Beberapa faktor kesehatan seperti tingginya kolesterol jahat atau low density lipoprotein (LDL) dan hipertensi menjadi pemicu utama terjadinya penyumbatan pembuluh darah ini. Ketika tekanan darah melebihi batas aman 130/80 mmHg, dinding pembuluh darah rentan mengalami kerusakan yang kemudian menjadi tempat menumpuknya lemak hingga membentuk plak penyumbat.

Penyakit diabetes dan kebiasaan merokok juga mempercepat kerusakan arteri serta menurunkan kapasitas sel darah merah dalam mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. "Kalau dia merokok, sel darah merah ini enggak ngangkut oksigen tapi yang diangkut karbon monoksida dibajak nikotin. Makanya sel-sel itu yang harusnya dia beregenerasi enggak jadi regenerasinya terganggu, mulai sel-sel yang ganas muncul," tambah Febtusia pada Selasa (9/6/2026).

Sumber : antaranews.com

Ahmedabad