ZoyaPatel

Ekosistem Jurnal Kita Tumbuh, Tapi Siapa yang Benar-Benar Diuntungkan?

Mumbai

 

Ilustrasi: Dedi Sufriadi / AI-Generated (ChatGPT)


Oleh : Dedi Sufriadi, SE., M.Si. 


Dosen Pendidikan Ekonomi — Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh Editor in Chief, Jurnal Serambi Ekonomi dan Bisnis & Founder, Indo Publishing — Aceh Besar.

Saya menulis ini bukan sebagai pengamat dari luar. Saya menulis ini sebagai seseorang yang sudah berada di dalam ekosistem ini — sebagai dosen, sebagai peneliti, sebagai editor jurnal, dan sebagai pendiri lembaga penerbitan ilmiah. Saya melihat ekosistem ini dari semua sisi sekaligus. Dan justru karena itu, saya merasa ada sesuatu yang perlu dikatakan dengan jujur.

Ekosistem jurnal ilmiah Indonesia sedang tumbuh. Tapi pertumbuhannya tidak merata. Dan ketidakmerataannya itu bukan kebetulan — ia adalah hasil dari pilihan-pilihan kebijakan yang kita buat, sadar atau tidak.

Angka yang Membanggakan, Realitas yang Lebih Kompleks

Mari kita mulai dari data. Data SINTA Kemdiktisaintek per Mei 2026 mencatat 15.456 jurnal terakreditasi dari 1.915 penerbit, dengan 331.407 penulis terdaftar dari 5.543 institusi. GARUDA mencatat lebih dari 5,22 juta artikel dari 29.376 jurnal. Statistik ISSN Perpustakaan Nasional mencatat pertumbuhan jumlah jurnal yang konsisten dari tahun ke tahun.

Angka-angka ini membanggakan. Dan memang seharusnya kita bangga — ini adalah bukti nyata bahwa komunitas akademik Indonesia aktif, produktif, dan terus berkembang.

Tetapi sebagai ekonom, saya terbiasa bertanya satu pertanyaan di balik setiap angka pertumbuhan: pertumbuhan ini mengalir ke mana, dan siapa yang paling banyak menikmatinya?

Jawabannya, jika kita jujur, tidak selalu menyenangkan.

Puncak Piramida: Ketika Indonesia Membuktikan Diri di Panggung Global

Sebelum berbicara tentang ketimpangan, saya ingin terlebih dahulu memberi penghormatan yang layak kepada mereka yang sudah berhasil membangun puncak piramida itu.

Indonesia memiliki sejumlah jurnal yang telah menembus indeksasi Scopus dengan performa yang benar-benar kompetitif di tingkat global. International Journal of Electrical and Computer Engineering yang diterbitkan oleh Institute of Advanced Engineering and Science mencatatkan 50.297 sitasi dengan impact factor 26,00 — angka yang tidak kalah dari jurnal-jurnal teknik internasional kelas menengah. Gadjah Mada International Journal of Business dari Universitas Gadjah Mada mencatatkan 36.213 sitasi dengan H5-index 74, menjadikannya salah satu jurnal ekonomi-bisnis paling berpengaruh di Asia Tenggara. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia dari Universitas Negeri Semarang bahkan mencatatkan impact factor 104,00 — tertinggi di antara jurnal pendidikan sains Indonesia — dengan 21.846 sitasi.

Di bidang pendidikan matematika, Journal on Mathematics Education dari Universitas Sriwijaya (Palembang) mencatatkan 16.974 sitasi dengan H5-index 62. Fakta bahwa jurnal ini berasal dari universitas di luar Jawa-pusat adalah bukti bahwa kualitas bisa tumbuh dari mana saja jika ada komitmen editorial yang kuat.

Yang lebih menarik adalah keberhasilan institusi-institusi keagamaan dan hukum Islam. Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam dari Universitas KH. Abdul Chalim mencatatkan impact 16,53 dengan 7.979 sitasi. Jurnal Pendidikan Islam dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung mencatatkan 6.540 sitasi. SAMARAH: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam dari UIN Ar-Raniry mencatatkan 5.990 sitasi. Journal of Indonesian Islam dari UIN Sunan Ampel mencatatkan 5.421 sitasi. Dan Jurnal Ilmiah Islam Futura dari LP2M UIN Ar-Raniry mencatatkan impact 24,00 dengan 5.251 sitasi. Keberhasilan jurnal-jurnal dari lingkungan perguruan tinggi Islam ini adalah salah satu cerita sukses yang paling kurang diapresiasi dalam narasi publikasi ilmiah nasional.

Di bidang kesehatan, International Journal of Public Health Science yang diterbitkan oleh Intelektual Pustaka Media Utama — sebuah lembaga penerbitan swasta — mencatatkan 7.708 sitasi di level SINTA 2 Scopus. Dental Journal dari Universitas Airlangga mencatatkan 6.409 sitasi. Dan Makara Journal of Science dari Universitas Indonesia mencatatkan 5.275 sitasi.

Dari lembaga pemerintah, Reinwardtia yang diterbitkan oleh Penerbit BRIN mewakili kontribusi riset dasar botani dan ekologi yang konsisten sejak puluhan tahun. Sementara Indonesian Journal of Forestry Research dari Asosiasi Peneliti Kehutanan Indonesia membuktikan bahwa asosiasi profesi pun mampu membangun jurnal berstandar Scopus.

Semua pencapaian ini nyata. Semua layak dirayakan. Tapi pertanyaan saya tetap sama: apakah keberhasilan di puncak ini menetes ke bawah? Apakah ia membangun ekosistem, atau hanya membangun menara?

Struktur Pasar yang Tidak Sehat

Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal konsep market concentration — konsentrasi pasar yang terjadi ketika sebagian besar sumber daya, perhatian, dan insentif mengalir ke segelintir pemain besar, sementara mayoritas pemain kecil berjuang di pinggiran.

Itulah yang sedang terjadi dalam ekosistem jurnal nasional kita.

Dari 15.456 jurnal terakreditasi, 10.580 jurnal atau 68,45% berada di SINTA 4 dan SINTA 5 — mayoritas mutlak. Namun hampir seluruh sistem insentif akademik — dari kredit BKD, poin PAK, syarat kelulusan pascasarjana, hingga kriteria seleksi hibah penelitian — dirancang dengan bias yang sangat kuat ke arah SINTA 1 dan SINTA 2 yang hanya mencakup 11,52% dari total ekosistem.

Ini bukan sekadar masalah keadilan distribusi. Ini adalah masalah inefisiensi alokasi sumber daya yang berdampak pada seluruh ekosistem. Ketika mayoritas jurnal tidak mendapat insentif yang memadai untuk berkembang, mayoritas peneliti tidak mendapat platform yang layak untuk berkontribusi, dan mayoritas pengetahuan yang diproduksi dari daerah-daerah di luar pusat tidak mendapat pengakuan yang setimpal — kita sedang membuang potensi pengetahuan nasional yang luar biasa besar.

Potensi Tersembunyi yang Tidak Pernah Masuk Berita

Ada fakta yang jarang sekali diangkat dalam diskusi kebijakan jurnal nasional: beberapa jurnal SINTA 4 mencatatkan sitasi yang melampaui banyak jurnal SINTA 2.

Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry yang diterbitkan oleh Universitas Mulawarman dari Kalimantan Timur — sebuah jurnal SINTA 4 dari luar Jawa — mencatatkan 60.583 sitasi. Angka itu bukan salah ketik. Enam puluh ribu lebih sitasi, dari sebuah jurnal yang menurut sistem peringkat kita hanya berada di level keempat dari lima. Journal of Education and Development dari Institut Pendidikan Tapanuli Selatan di Sumatera Utara mencatatkan 17.196 sitasi di level SINTA 4. The Accounting Journal of Binaniaga dari Jawa Barat mencatatkan 11.706 sitasi.

Dari lembaga independen, ADI Journal on Recent Innovation yang diterbitkan oleh Asosiasi Dosen Indonesia mencatatkan lebih dari 7.200 sitasi di level SINTA 4. Jurnal JTIK dari Lembaga KITA mencatatkan 5.158 sitasi. International Journal of Educational Research and Social Sciences dari L-MSTI Institute mencatatkan 3.941 sitasi.

Pertanyaannya bukan mengapa jurnal-jurnal ini tidak naik peringkat. Pertanyaannya adalah: mengapa sistem kita tidak dirancang untuk mengenali dan menghargai dampak nyata seperti ini?

Pelajaran dari Transformasi Struktural Ekonomi Daerah

Penelitian saya tentang transformasi struktural perekonomian daerah mengajarkan satu hal yang relevan dengan diskusi kita hari ini.

Transformasi yang tidak inklusif selalu meninggalkan kelompok-kelompok tertentu di belakang — bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena struktur insentif dan akses yang ada tidak dirancang untuk mereka.

Hal yang sama berlaku untuk transformasi ekosistem jurnal nasional. Kita sedang mengalami transformasi yang luar biasa dalam hal kuantitas dan infrastruktur digital. Tapi apakah transformasi ini inklusif? Apakah dosen di kampus-kampus kecil di pedalaman Kalimantan, di kepulauan Nusa Tenggara, di pesisir Sulawesi Tenggara merasakan manfaat yang sama dari transformasi ini?

Dari pengalaman saya di lapangan, jawabannya adalah: belum sepenuhnya.

Yang Tidak Diceritakan oleh Statistik

Ada dimensi dari ekosistem jurnal nasional yang tidak pernah tertangkap dalam statistik SINTA atau GARUDA mana pun, tetapi sangat nyata bagi mereka yang bekerja di lapangan.

Saya pernah menjadi dosen di sebuah institusi yang kemudian — setelah saya berhasil meraih serdos dan membangun rekam jejak akademik yang solid — tidak lagi memberikan dukungan yang memadai. Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa ekosistem akademik Indonesia masih menyimpan banyak ketidakadilan struktural yang tidak terlihat dari luar: dosen yang sudah berkontribusi besar namun tidak mendapat pengakuan yang setimpal, jurnal yang sudah bekerja keras membangun standar editorial namun terpinggirkan oleh sistem peringkat, peneliti daerah yang menghasilkan pengetahuan relevan namun tidak punya akses ke jaringan yang membuka pintu ke jurnal bereputasi tinggi.

Ketidakadilan-ketidakadilan itu bukan hanya masalah moral. Ia adalah kebocoran ekonomi pengetahuan yang merugikan seluruh bangsa.

Desentralisasi Fiskal dan Desentralisasi Pengetahuan

Penelitian saya tentang pengaruh derajat desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan temuan yang konsisten dengan literatur internasional: desentralisasi fiskal yang dirancang dengan baik dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah — tetapi hanya jika disertai dengan kapasitas kelembagaan yang memadai di tingkat daerah.

Prinsip yang sama berlaku untuk desentralisasi pengetahuan. Kita sudah memiliki infrastruktur desentralisasi pengetahuan yang cukup baik — sistem SINTA yang dapat diakses dari mana saja, platform OJS yang open source, DOI Crossref yang terjangkau. Tetapi desentralisasi infrastruktur saja tidak cukup jika tidak disertai dengan desentralisasi kapasitas dan desentralisasi insentif.

Selama sistem insentif akademik nasional masih terpusat pada SINTA 1 dan SINTA 2 yang mayoritas diterbitkan oleh institusi besar di Jawa, desentralisasi pengetahuan yang sesungguhnya belum terjadi. Yang terjadi baru desentralisasi akses — bukan desentralisasi pengakuan.

Lembaga Penerbitan Mandiri: Pilar Ketiga yang Terlupakan

Di tengah dominasi penerbit kampus besar, tumbuh diam-diam sebuah ekosistem yang sering luput dari perhatian kebijakan: lembaga penerbitan ilmiah mandiri dan asosiasi profesi yang menjadi jembatan antara peneliti daerah dan dunia publikasi ilmiah.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di satu wilayah. Di tingkat nasional, beberapa lembaga independen bahkan telah berhasil menembus indeksasi Scopus — pencapaian yang selama ini dianggap hanya mungkin bagi universitas riset besar. Pandawan Sejahtera Indonesia menerbitkan APTISI Transactions on Technopreneurship yang terindeks Scopus SINTA 1 dengan 6.282 sitasi. Lembaga Contrarius Institute menerbitkan JHCLS yang terindeks Scopus SINTA 1 dengan 2.226 sitasi. Pandawa Institute menerbitkan Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science yang terindeks Scopus SINTA 2. Intelektual Pustaka Media Utama (IPMU) menerbitkan International Journal of Public Health Science yang terindeks Scopus SINTA 2 dengan 7.708 sitasi. SCAD Independent menerbitkan Jurnal Ilmiah Peuradeun yang terindeks Scopus SINTA 1 dengan 6.904 sitasi dan impact factor 13,81.

Di level SINTA 4, Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) menerbitkan ADI Journal on Recent Innovation dengan lebih dari 7.200 sitasi. Lembaga KITA menerbitkan Jurnal JTIK dengan 5.158 sitasi. L-MSTI Institute menerbitkan International Journal of Educational Research and Social Sciences dengan 3.941 sitasi.

Saya sendiri mendirikan Indo Publishing bukan karena ingin membangun bisnis penerbitan. Saya mendirikannya karena melihat kebutuhan nyata yang tidak terpenuhi: peneliti-peneliti di daerah yang punya data bagus, punya temuan yang relevan, tetapi tidak punya akses ke infrastruktur penerbitan yang memadai. Jurnal-jurnal yang kami kelola — Indonesia Berdampak, Journal of Literature Review, Indonesia Economic Journal, Sujud: Jurnal Agama, Sosial dan Budaya, dan Jurnal Ilmiah Literasi Indonesia — adalah platform yang kami bangun untuk memastikan bahwa pengetahuan yang diproduksi dari daerah punya rumah yang layak.

Semua lembaga ini — dari yang sudah Scopus hingga yang masih merintis, dari Jawa hingga ujung Sumatera dan Kalimantan — adalah bagian dari ekosistem yang sama. Dan mereka semua menghadapi tantangan yang sama: tidak ada kerangka kebijakan yang mengakui kontribusi mereka secara setara.

Tiga Hal yang Perlu Segera Dibenahi

Sebagai ekonom yang juga praktisi ekosistem penerbitan, saya ingin mengajukan tiga rekomendasi yang paling mendesak.

Pertama, reformasi sistem insentif akademik. Sistem BKD dan PAK perlu direvisi untuk memberikan pengakuan yang lebih proporsional terhadap kontribusi di jurnal SINTA 3, SINTA 4, dan SINTA 5 — terutama untuk penelitian yang memiliki dampak nyata pada kebijakan atau masyarakat. Dampak riil sebuah penelitian tidak selalu berkorelasi dengan peringkat jurnal tempat ia diterbitkan. Data sitasi jurnal-jurnal SINTA 4 yang melampaui banyak jurnal SINTA 2 adalah bukti empiris yang tidak bisa diabaikan.

Kedua, program akselerasi kapasitas editorial untuk daerah. Kemdiktisaintek perlu mengembangkan program pendampingan yang sistematis dan berkelanjutan — bukan sekadar workshop satu-dua hari — untuk membantu jurnal-jurnal di daerah membangun kapasitas editorial yang memadai. Data ARJUNA menunjukkan bahwa 55,77% dari 45.119 usulan akreditasi periode 2022–2026 memiliki evaluasi diri di bawah 70. Ini adalah masalah kapasitas yang tidak bisa diselesaikan tanpa intervensi yang terstruktur dan konsisten.

Ketiga, pengakuan terhadap ekosistem penerbitan mandiri. Lembaga-lembaga penerbitan mandiri — dari yang sudah menembus Scopus seperti Pandawan Sejahtera Indonesia, Contrarius Institute, SCAD Independent, dan IPMU, hingga yang masih merintis seperti Indo Publishing, Lembaga KITA, L-MSTI Institute, dan ratusan lembaga serupa di berbagai daerah — perlu mendapat pengakuan dan dukungan dari ekosistem akademik yang lebih luas. Mereka bukan pemain pinggiran. Mereka adalah bagian dari solusi desentralisasi pengetahuan yang kita butuhkan.

Pertanyaan untuk Kita Semua

Saya ingin menutup dengan sebuah pertanyaan yang lahir dari pengalaman panjang saya di ekosistem ini — sebagai peneliti, sebagai editor, sebagai pendiri lembaga penerbitan, dan sebagai dosen yang pernah merasakan sendiri ketidakadilan struktural yang ada.

Kita sering berbicara tentang ekosistem jurnal yang berkualitas. Tapi kualitas untuk siapa? Berkualitas menurut standar siapa? Dan siapa yang menentukan standar itu?

Jurnal-jurnal Scopus kita yang terbaik — dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Semarang, Universitas Sriwijaya, UIN-UIN di berbagai kota, hingga lembaga-lembaga independen yang berhasil menembus indeksasi global — telah membuktikan bahwa Indonesia mampu bersaing di panggung internasional. Itu adalah modal yang luar biasa. Tapi modal itu hanya akan bermakna jika ia digunakan untuk membangun ekosistem yang lebih luas — bukan hanya untuk mempertahankan status quo di puncak piramida.

Ekosistem pengetahuan yang sehat adalah ekosistem yang tumbuh dari akar — dari dosen-dosen di kampus kecil yang meneliti masalah nyata di sekitar mereka, dari lembaga-lembaga penerbitan mandiri yang membangun infrastruktur dengan sumber daya terbatas, dari jurnal-jurnal SINTA 4 dan SINTA 5 yang melayani ratusan ribu peneliti yang tidak punya akses ke jurnal bereputasi tinggi.

Mereka bukan beban ekosistem. Mereka adalah ekosistem itu sendiri.

Dan sudah saatnya kebijakan kita mencerminkan pemahaman itu.

Dedi Sufriadi, SE., M.Si. adalah dosen Pendidikan Ekonomi di Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh, Editor in Chief Jurnal Serambi Ekonomi dan Bisnis, dan Founder Indo Publishing. Bidang risetnya mencakup pendidikan ekonomi, ilmu ekonomi, transformasi struktural ekonomi daerah, dan pemberdayaan masyarakat.

Pandangan dalam tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis.


Ahmedabad