Psikiater Ungkap Kunci Kesehatan Mental Stabil Sepanjang Ramadhan
Menurut dr. Revit, esensi Ramadhan sendiri telah membawa suasana kedamaian. Munculnya emosi adalah hal wajar, namun pengendaliannya menjadi kunci agar tidak menimbulkan dampak negatif.
"Tips pertama, sadari lelah itu bukan dosa. Akui jika merasa lelah," ujar dr. Revit di Batam, Kepulauan Riau, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa pada awal Ramadhan, tubuh membutuhkan adaptasi dari pola makan normal ke pola makan sahur dan berbuka. Perubahan ini secara neurologis dapat menyebabkan penurunan gula darah, yang berujung pada rasa lelah dan sensitivitas emosional yang lebih tinggi.
Peningkatan hormon stres (kortisol) juga umum terjadi di fase awal ini, seiring dengan penyesuaian pola tidur dan makan. Namun, puasa juga memicu proses pembersihan sel (autophagy), termasuk di otak, yang dapat mendukung perbaikan sel saraf dan meningkatkan faktor neurotropik yang berperan dalam fungsi kognitif serta regulasi emosi.
Panduan Praktis Menjaga Keseimbangan Emosional di Bulan Suci
Dr. Revit menekankan pentingnya validasi emosi. "Ketika emosi itu muncul harus divalidasi, kenapa bisa emosi, kenali emosinya," katanya. Seringkali, individu kesulitan mengenali emosi mereka akibat pola asuh sejak kecil yang tidak mengajarkan ekspresi perasaan. Untuk itu, validasi emosi dapat dilakukan dengan berbicara kepada teman terpercaya atau bahkan dengan diri sendiri.
Selanjutnya, mengatur energi menjadi prioritas. "Jadi yang diatur bukan cuma waktu, tapi juga energi perlu diatur dengan menjaga pola makannya, dan pola tidurnya," terang dr. Revit.
Teknik pernapasan, seperti menarik napas selama empat hitungan, menahan empat hitungan, dan mengembuskan empat hitungan, atau pola 4-7-8, juga disarankan untuk menenangkan diri.
Dr. Revit juga menyarankan untuk menurunkan standar perfeksionisme yang berlebihan. Fokus pada penyelesaian tugas hingga larut malam saat jam kerja telah usai, atau menyiapkan sarapan anak hingga larut malam, dapat dihindari dengan memprioritaskan istirahat dan ibadah.
Teknik lain yang efektif adalah _self talk_ positif melalui jurnaling, mengganti kalimat negatif menjadi positif, memaafkan orang lain dan diri sendiri, serta melakukan afirmasi sebelum tidur.
Terakhir, dr. Revit menganjurkan "me time spiritual" melalui kegiatan seperti mengaji, salat tarawih, dan tadarus untuk memperkuat ketenangan batin.
Sumber : Antara
