Disaster Network Lakukan Penanganan Ketidaknyamanan Psikologis Akibat Cuaca Ekstrem Hidrometeorologi di Surabaya
UPBERITA.COM - Cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang melanda Surabaya dalam beberapa hari terakhir menimbulkan dampak fisik dan psikologis bagi masyarakat. Berdasarkan laporan media lokal dan observasi tercatat puluhan pohon tumbang dan beberapa bangunan mengalami kerusakan akibat hujan angin. Data prakiraan resmi dari BMKG juga menunjukkan pola cuaca yang masih berpotensi ekstrem dalam periode musim hujan ini.
Merespons kondisi tersebut Disaster Network melakukan intervensi psikologis bagi warga yang mengalami ketidaknyamanan psikologis seperti kecemasan, gangguan tidur, hipervigilance terhadap suara angin, hingga ketakutan berada di dalam bangunan tinggi saat hujan deras dan angin kencang. Salah satu kelompok yang mendapatkan perhatian khusus adalah penyintas yang tinggal dan bekerja di gedung-gedung tinggi (skyscraper) di Surabaya. Pengalaman berada di lantai atas saat angin kencang dan hujan ekstrem sering memicu sensasi goyangan, suara gemuruh, serta persepsi ancaman struktural yang memperkuat respons kecemasan.
Menurut Dr. Listyo Yuwanto dari Disaster Network, pendekatan ini bukan yang pertama kali dilakukan. “Beberapa tahun lalu kami melakukan pendampingan serupa di Jakarta melalui program Skyscraper Project, yaitu penanganan psikologis penyintas cuaca ekstrem yang tinggal di gedung tinggi. Model tersebut kini kami adaptasi di Surabaya karena karakteristik kota dan pola hunian vertikalnya semakin berkembang,” jelasnya.
Pendekatan ini menempatkan cuaca ekstrem sebagai stressor kronis hidrometeorologi, bukan sekadar peristiwa sesaat, sehingga respons psikologis perlu dipetakan berdasarkan fase sebelum, saat, dan setelah kejadian. Dalam intervensinya, tim menggunakan pendekatan psikoterapi berbasis bukti seperti disensitisasi sistematis, untuk membantu individu mengurangi respons cemas terhadap suara angin, kilat, dan hujan deras secara bertahap. Exposure therapy, untuk membangun kembali rasa aman melalui paparan terkontrol terhadap stimulus yang sebelumnya memicu kecemasan. Pendekatan ini efektif dalam mengurangi respons fisiologis berlebihan serta membantu restrukturisasi kognitif terhadap persepsi ancaman.
Yang menjadi keunikan intervensi Disaster Network adalah integrasi lintas disiplin antara psikologi bencana, hidrometeorologi, dan astronomi. Dua inovasi utama yang diterapkan adalah pertama Cosmic Grounding Therapy. Metode ini dikembangkan dengan memanfaatkan data astronomis seperti posisi dan intensitas cahaya matahari sebagai media grounding psikologis. Kedua Sun Locator, sebuah pendekatan berbasis pemanfaatan informasi fase dan posisi matahari untuk menjaga regulasi emosi.
Disaster Network memandang bencana hidrometeorologi sebagai fenomena yang memiliki timeline perkembangan tertentu. Pemahaman terhadap prakiraan cuaca dan pola angin memungkinkan tim memprediksi fase peningkatan kecemasan masyarakat. Kolaborasi antara data hidrometeorologi dan psikologi kognitif juga memperkuat komunikasi risiko, sehingga masyarakat tidak terjebak pada bias optimisme maupun kepanikan berlebihan. Pendekatan ini tidak hanya menekankan pemulihan pascakejadian, tetapi juga membangun ketahanan psikologis masyarakat urban yang tinggal di lingkungan vertikal dan padat.
“Kota besar seperti Surabaya membutuhkan model intervensi psikologis yang adaptif terhadap perubahan iklim dan pola cuaca ekstrem. Integrasi psikologi, hidrometeorologi, dan astronomi adalah bagian dari masa depan mitigasi risiko psikologis,” tutup Dr. Listyo Yuwanto.