ZoyaPatel

Manusia Mempercepat Pemanasan Bumi Melebihi Prediksi Ilmiah

Mumbai



UPBERITA.COM-  Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa aktivitas manusia mempercepat pemanasan global dengan laju yang mengkhawatirkan, melampaui apa yang diperkirakan sebelumnya. Studi ini menunjukkan bahwa faktor alami tidak dapat menjelaskan peningkatan suhu ekstrem yang terjadi belakangan ini, menggarisbawahi laju perubahan iklim yang hampir dua kali lipat.

Secara spesifik, pemanasan global meningkat dari rata-rata stabil di bawah 0,2 derajat Celsius per dekade antara tahun 1970 dan 2015, menjadi sekitar 0,35 derajat Celsius per dekade dalam dekade terakhir. Laju ini merupakan yang tertinggi sejak pengukuran suhu Bumi secara sistematis dimulai pada tahun 1880.

Para ilmuwan telah menganalisis lima dataset utama yang mengukur suhu Bumi, menggunakan metode khusus untuk menyaring pengaruh faktor non-manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa percepatan pemanasan global telah terdeteksi secara konsisten pada setiap dataset sejak tahun 2013 atau 2014.

"Saat ini, ada kesepakatan yang cukup luas -- meskipun belum sepenuhnya universal -- bahwa telah terjadi percepatan yang terdeteksi dalam pemanasan global dalam beberapa tahun terakhir," ujar Stefan Rahmstorf, seorang ilmuwan di Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim dan salah satu penulis studi tersebut, mengutip The Guardian.

Tren Pemanasan yang Mengkhawatirkan dan Batas Ambang Paris

"Jika laju pemanasan selama 10 tahun terakhir terus berlanjut, hal itu akan menyebabkan pelampauan batas 1,5 derajat Celcius Perjanjian Paris secara permanen sebelum tahun 2030," tambah Rahmstorf.

Kondisi panas ekstrem yang terjadi belakangan ini turut dipengaruhi oleh fluktuasi alami seperti siklus Matahari, letusan gunung berapi, dan fenomena El Niño. Hal ini sempat mendorong para ilmuwan untuk mempertanyakan apakah suhu tinggi yang tercatat merupakan penyimpangan sementara atau konsekuensi dari pemanasan global yang kian intensif.

Meskipun terdapat perdebatan mengenai sejauh mana faktor eksternal dibandingkan variabilitas alami berperan dalam pemanasan tambahan selama dekade terakhir, peningkatan laju pemanasan global ini menjadi perhatian serius. "Hal ini seharusnya menjadi perhatian serius karena dunia sedang menuju ambang batas 1,5 derajat Celsius pada dekade ini," ungkap Zeke Hausfather, seorang ilmuwan iklim di Berkeley Earth, yang tidak terlibat dalam studi tersebut.

Percepatan pemanasan global ini sejalan dengan prediksi model iklim. Berdasarkan analisis data suhu dari layanan Copernicus Uni Eropa, dunia berpotensi melampaui ambang batas pemanasan jangka panjang 1,5 derajat Celsius pada tahun ini jika laju pemanasan tidak melambat. Analisis dataset lain memprediksi pelampauan ambang batas ini terjadi pada tahun 2028 atau 2029.

Para ilmuwan iklim khawatir bahwa jika tren pemanasan yang lebih cepat ini berlanjut, jendela waktu untuk membatasi pemanasan hingga 2 derajat Celsius di atas level pra-industri akan "menyempit secara signifikan". Namun, ada pula pandangan bahwa percepatan ini bisa jadi bersifat sementara dan pemantauan berkelanjutan sangat penting untuk menentukan pergeseran mana yang terjadi.

"Seberapa cepat Bumi terus memanas pada akhirnya bergantung pada seberapa cepat kita mengurangi emisi CO2 global dari bahan bakar fosil hingga nol," tegas Rahmstorf.


Ahmedabad