ZoyaPatel

BMKG Sebut Kemungkinan Kecil El Nino Menguat pada 2026

Mumbai



UPBERITA.COM -  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengindikasikan kemungkinan kecil El Nino berkembang menjadi kategori kuat pada tahun 2026. Prediksi ini berdasarkan analisis data hingga akhir Maret 2026 yang menunjukkan intensitas El Nino berkisar antara lemah hingga moderat.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyatakan bahwa potensi perkembangan fenomena El Nino diperkirakan terjadi pada paruh kedua tahun 2026. Saat ini, kondisi ENSO (El Nino-Southern Oscillation) dan IOD (Indian Ocean Dipole) terpantau berada dalam fase netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan kemungkinan bergeser ke fase El Nino pada periode tersebut.

"Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat," ujar Ardhasena dalam sebuah keterangan, Minggu (5/4/2026).

Meskipun demikian, BMKG menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menginterpretasikan data prediksi saat ini. Hal ini disebabkan oleh fenomena spring predictability barrier, yaitu penurunan akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk ENSO ketika belahan Bumi utara memasuki periode musim semi (Maret, April, Mei).

Akurasi Prediksi dan Antisipasi Dampak

Akurasi prediksi El Nino yang dihasilkan pada periode Maret-April umumnya hanya dapat diandalkan untuk perkiraan tiga bulan ke depan. Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman mendalam mengenai interaksi multi-faktor yang memengaruhi kemunculan kondisi El Nino serta dampaknya ke wilayah Indonesia. BMKG secara berkelanjutan akan memantau pembaruan data dan mengkaji perkembangannya.

Tingkat kepercayaan terhadap intensitas El Nino diprediksi akan meningkat pada hasil prediksi bulan Mei 2026. Secara statistik, prediksi yang dikeluarkan pada bulan Mei memiliki keandalan yang lebih baik untuk memproyeksikan kondisi iklim hingga enam bulan ke depan.

"Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia," tutur Ardhasena.

Menghadapi potensi kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan melalui langkah-langkah antisipatif yang dapat dilaksanakan oleh seluruh pihak. Sebelumnya, BMKG telah menginformasikan bahwa musim kemarau 2026 cenderung dimulai lebih awal dari rata-rata klimatologinya. Kondisi ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina lemah pada Februari 2026, yang kini telah beralih ke fase netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun.

Ahmedabad