Mengenal Bruxism, Kebiasaan Menggertakkan Gigi Saat Tidur dan Dampaknya
"Suara yang dihasilkan sering kali cukup mengganggu dan dapat berdampak buruk pada kesehatan gigi maupun sendi rahang," ujar dr. Yeni.
Secara medis, bruxism dipicu oleh peningkatan aktivitas otot pengunyahan seperti masseter, temporalis, dan pterygoid, yang diatur oleh sistem saraf, khususnya sistem dopaminergik.
dr. Yeni menjelaskan bahwa aktivitas otot ini menjadi lebih sering dan kuat dari kondisi normal, menunjukkan adanya keterlibatan sistem saraf pusat dalam mengatur gerakan tersebut.
Gangguan Tidur dengan Keterlibatan Saraf Pusat
Dalam klasifikasi medis, bruxism digolongkan sebagai parasomnia, yaitu perilaku tidak diinginkan yang muncul saat tertidur.
Kondisi ini sering kali dipicu oleh stres dan kecemasan, sebagaimana diperkuat oleh meta-analisis yang menunjukkan korelasi kuat antara tingkat stres dan risiko bruxism. Pengelolaan emosi dan tekanan mental menjadi kunci utama dalam meredam intensitas gerakan rahang saat tidur. Bruxism juga dapat berkaitan dengan gangguan irama sirkadian dan nyeri kronis, sehingga penting untuk tidak mengabaikan gejala fisiknya.
Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami gejala seperti nyeri rahang, gigi retak atau aus, gangguan mengunyah, atau sakit kepala berulang saat bangun tidur. Pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis diperlukan jika bruxism disertai gangguan tidur atau dicurigai berkaitan dengan gangguan neurologis.
Penanganan bruxism bersifat komprehensif dan disesuaikan dengan penyebabnya, meliputi perbaikan higiene tidur, manajemen stres, penggunaan pelindung gigi (night guard), dan dalam kasus tertentu, terapi farmakologi dengan obat pelemas otot. Dengan pemahaman dan penanganan yang tepat, bruxism dapat dikendalikan untuk mencegah komplikasi jangka panjang.
