ZoyaPatel

Rupiah Melemah ke Rp17.500, Begini Potensi Dampaknya pada Ekonomi Indonesia

Mumbai



UPBERITA.COM -  
Nilai tukar rupiah kembali terperosok hingga menyentuh angka Rp17.500 per dolar Amerika Serikat pada Selasa, 12 Mei 2026, melampaui pelemahan terparah yang terjadi saat pandemi COVID-19. Posisi mata uang Garuda yang nyaris menyentuh titik psikologis krusial ini menimbulkan pertanyaan seberapa besar dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Meskipun pelemahan rupiah kali ini sudah sangat signifikan, para ekonom menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih lebih kokoh dibandingkan dengan krisis moneter pada tahun 1998. Cadangan devisa yang relatif kuat, inflasi yang terkendali, stabilitas perbankan, dan pertumbuhan ekonomi yang masih positif menjadi penopang utama.

Analis mata uang, Lukman Leong, menyatakan bahwa pelemahan ini perlu diwaspadai namun belum dapat dikategorikan sebagai krisis. Ia menjelaskan bahwa peluang rupiah terus melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS masih terbuka jika tekanan global semakin memburuk, terutama dipengaruhi oleh prospek suku bunga AS, harga minyak mentah dunia yang tinggi, dan potensi keluarnya dana asing dari pasar negara berkembang.

Pelemahan mata uang ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga oleh sejumlah mata uang Asia lainnya seperti Won Korea, Peso Filipina, dan Rupee India yang juga mengalami tekanan besar dalam sepekan terakhir. Lukman menambahkan bahwa pelemahan rupiah akan memberikan dampak luas terhadap perekonomian domestik.

Dampak Ganda Pelemahan Rupiah terhadap Sektor Ekonomi

Biaya impor yang semakin mahal akan menjadi konsekuensi langsung dari melemahnya rupiah. Hal ini mencakup kenaikan harga energi, bahan baku industri, hingga pangan. Lonjakan harga tersebut berpotensi mendorong inflasi dan menggerus daya beli masyarakat. Selain itu, beban utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta, akan meningkat ketika dikonversikan ke dalam nilai rupiah.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar memberikan keuntungan bagi para eksportir yang transaksinya berbasis dolar AS, seperti eksportir batu bara, kelapa sawit (CPO), dan komoditas lainnya. Namun, sektor yang paling tertekan adalah industri yang sangat bergantung pada impor atau memiliki utang dalam dolar AS.

"Industri penerbangan misalnya menghadapi kenaikan biaya avtur dan leasing pesawat yang mayoritas berbasis dolar. Sektor otomotif, elektronik, farmasi, dan manufaktur juga tertekan karena banyak menggunakan bahan baku impor sehingga biaya produksi meningkat," ujar Lukman.

Perusahaan dengan utang dalam dolar yang besar juga akan merasakan peningkatan beban pembayaran cicilan dan bunga. Sebaliknya, sektor yang berorientasi ekspor dinilai akan lebih mampu bertahan, bahkan berpotensi diuntungkan karena pendapatan mereka diterima dalam mata uang dolar.

Dalam menanggapi situasi ini, Lukman menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar agar pelemahan rupiah tidak berubah menjadi kepanikan. Bank Indonesia (BI) diharapkan terus aktif melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar valas dan obligasi, serta menjaga suku bunga tetap kompetitif agar rupiah tetap menarik bagi investor.

Pemerintah juga perlu menunjukkan disiplin fiskal dan mengkomunikasikan kebijakan secara jelas untuk mempertahankan kepercayaan investor terhadap kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta arah kebijakan ekonomi. Dalam jangka menengah, Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada impor energi dan memperkuat sumber devisa dari ekspor serta investasi asing langsung (FDI) demi memperkuat fundamental rupiah agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak global.

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menegaskan bahwa level Rp17.500 per dolar AS merupakan alarm serius bagi perekonomian nasional, meskipun konteksnya berbeda dengan krisis 1998. Ia menyoroti adanya domestic risk premium yang melekat pada Indonesia, yang membuat pelemahan rupiah lebih dalam dibandingkan mata uang Asia lainnya. Hal ini menunjukkan adanya kerentanan struktural dalam ekonomi domestik, seperti tingginya ketergantungan impor dan melemahnya kontribusi manufaktur terhadap PDB.

Dampak pelemahan rupiah diperkirakan akan terasa bertahap ke sektor riil, terutama melalui kenaikan harga barang impor (imported inflation). Kombinasi rupiah lemah dan harga minyak tinggi juga menekan ruang fiskal melalui subsidi energi. Dunia usaha menghadapi kenaikan biaya produksi, terutama sektor yang bergantung pada impor bahan baku.

Kelompok Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dinilai menjadi yang paling rentan karena keterbatasan akses lindung nilai dan modal yang cukup untuk menyerap kenaikan biaya. PMI manufaktur yang mendekati zona kontraksi menjadi sinyal awal tekanan rupiah mulai merambah sektor riil.

Yusuf menyarankan respons kebijakan yang simultan dari pemerintah dan BI, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Intervensi pasar oleh BI bersifat sementara, sementara pemulihan kredibilitas kebijakan ekonomi melalui disiplin fiskal, komunikasi yang konsisten, dan regulasi yang prediktif menjadi kunci. Jangka panjang, Indonesia perlu memperkuat manufaktur bernilai tambah dan mengurangi ketergantungan impor energi agar rupiah tidak terus rentan terhadap guncangan global.

Sumber : CNN Indonesia

Ahmedabad