ZoyaPatel

Pemerintah Indonesia Waspadai Krisis Iklim dan Pangan Global

Mumbai

UPBERITA.COM-  Menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia akibat konflik geopolitik, Indonesia mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi ancaman krisis iklim dan pangan. Pemerintah menegaskan bahwa kedaulatan pangan menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan global ini.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, menjelaskan hubungan erat antara perubahan iklim dan pentingnya ketahanan pangan. Fenomena alam ekstrem dapat menyebabkan gejolak pada sektor pangan.

"Perubahan iklim yang memang cukup ekstrim, konflik geopolitik yang belum mereda dan rantai pasok global yang memang ada beberapa gangguan ya, mungkin yang sudah ada perbaikan tapi yang beberapa pun masih dan ini berdampak langsung pada sektor pangan," ujar Widiastuti dalam program Coffee Morning CNBC Indonesia.

Volatilitas harga pangan global yang meningkat menjadi perhatian serius. Hal ini menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam memenuhi kebutuhan pangan domestik, sementara ketergantungan antarnegara berpotensi semakin tinggi akibat efek perubahan iklim dan konflik geopolitik.

Perkuat Kedaulatan Pangan Melalui Penguatan Sistem Irigasi

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah berupaya memperkuat kedaulatan pangan secara berkelanjutan. Widiastuti menekankan bahwa pencapaian swasembada pangan, seperti yang telah diraih untuk beras pada tahun 2025, bukanlah akhir dari upaya. Kondisi geopolitik dan perubahan iklim yang ekstrem menuntut langkah-langkah antisipatif yang lebih jauh.

Sebagai contoh, fenomena cuaca ekstrem seperti "El Nino Godzilla" dapat mengganggu sektor pertanian dan berpotensi menyebabkan gagal panen. Untuk memitigasi risiko ini, pemerintah gencar memperkuat sistem irigasi. Upaya ini melibatkan koordinasi antar kementerian/lembaga, serta kerja sama dengan berbagai asosiasi pertanian, agribisnis, dan korporasi seperti PT Pupuk Indonesia.

"Misalkan irigasi ini yang kita lakukan. Pengairan lagi kita proses ini memang lagi kita galakan untuk kita sinkronisasikan terkait titik-titik irigasi di Indonesia," kata Widiastuti.

Ketahanan pangan didefinisikan sebagai kemampuan negara untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, yang telah terbukti melalui pencapaian swasembada beras pada 2025 tanpa impor sepanjang tahun. Capaian ini menjadi fondasi untuk mewujudkan target kedaulatan pangan pada 2029, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

"Dan yang gak kalah pentingnya adalah Presiden menetapkan 2045 adalah Indonesia Emas. Jadi proses tetap harus kita lakukan bersama. Koordinasi dan kerja sama sangat-sangat dibutuhkan," pungkas Widiastuti.

Sumber : CNBC Indonesia.com

Ahmedabad