Musim Kemarau Masih Hujan? Ini Penjelasan BMKG Soal Fenomena Cuaca Aneh
Menurut data terbaru BMKG, sekitar 12,8 persen atau 90 zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah-wilayah ini meliputi sebagian kecil dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.
BMKG juga mencatat adanya potensi cuaca panas terik di siang hari yang disusul oleh hujan pada sore hingga malam hari di beberapa wilayah. Kondisi ini, menurut BMKG, merupakan karakteristik dari fase peralihan musim.
"Pola peralihan musim ini ditandai oleh perbedaan suhu udara yang cukup signifikan antara pagi dan siang hari. Pada pagi hingga siang hari, proses konveksi yang tinggi akibat intensitas radiasi matahari akan memicu pembentukan hujan lokal pada sore hingga malam hari," demikian penjelasan BMKG dalam laporannya mengenai Potensi Hujan Indonesia Sepekan ke Depan periode 28 April-4 Mei.
Karakteristik Hujan Peralihan Musim
Hujan yang terjadi selama periode peralihan musim ini umumnya bersifat tidak merata, dengan intensitas sedang hingga lebat namun berdurasi singkat. Fenomena ini seringkali disertai dengan kilat dan angin kencang.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi suhu udara yang relatif panas di siang hari, serta terhadap cuaca ekstrem yang dapat terjadi pada sore hingga malam hari. Pemanasan permukaan yang kuat di siang hari dikombinasikan dengan kelembaban udara yang masih tinggi menjadi faktor pendukung terbentuknya awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan lokal.
Sebelumnya, BMKG melaporkan adanya hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 24-26 April. Curah hujan tertinggi tercatat di wilayah Papua Selatan (112.6 mm/hari), Nusa Tenggara Barat (70.5 mm/hari), Sumatra Barat (63.4 mm/hari), Bangka Belitung (63.1 mm/hari), Nusa Tenggara Timur (56.5 mm/hari), Papua Tengah (54.1 mm/hari), dan Sulawesi Selatan (50.4 mm/hari).
Kondisi hujan tersebut dipicu oleh berbagai fenomena atmosfer seperti gelombang Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), serta aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO). Selain itu, sirkulasi siklonik di perairan dan pesisir barat Sumatera dan Kalimantan Barat juga turut meningkatkan peluang pertumbuhan awan hujan.
Sumber : CNN Indonesia
