Perang Timur Tengah Tak Langsung Guncang Sinyal Telekomunikasi Indonesia

UPBERITA.COM - Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah diprediksi tidak menimbulkan dampak langsung pada operasional industri telekomunikasi di Indonesia. Namun, gejolak perekonomian global akibat perang tersebut berpotensi memberikan efek tidak langsung yang signifikan.
Merza, seorang perwakilan dari industri telekomunikasi, menyatakan bahwa sejauh ini belum ada keluhan atau gangguan yang terasa secara langsung di sektor ini. "Selama ini sih mudah-mudahan tidak ada apa-apa. Kita tentu berharap perang ini segera berhenti," ujar Merza dalam sebuah kesempatan. Ia menambahkan, "Tidak tahu di industri lain, tapi kita (telekomunikasi) masih belum rasa apa-apa."
Meskipun demikian, isu yang paling mengkhawatirkan adalah potensi pelemahan nilai tukar mata uang. Industri telekomunikasi di Indonesia sangat bergantung pada impor komponen perangkat keras dan jaringan, yang transaksinya menggunakan mata uang asing. Jika situasi geopolitik memburuk dan nilai tukar rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS, biaya investasi untuk pengadaan perangkat tersebut akan melonjak.
Kondisi ekonomi global yang tidak stabil juga berisiko menurunkan daya beli masyarakat. Penurunan daya beli ini secara otomatis akan berdampak pada konsumsi layanan telekomunikasi. Dalam situasi krisis, masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok seperti pangan di atas layanan telekomunikasi.
"Kalau kondisi seperti itu, pilih mana, beli beras atau beli pulsa? Perut itu utama," tegas Merza, mengingatkan potensi terulangnya krisis moneter seperti yang pernah terjadi sebelumnya akibat perang regional.
Data terbaru menunjukkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS, dengan nilai tukar mencapai Rp16.997 per dolar AS pada Senin sore, 16 Maret 2026. Kondisi ini diperparah oleh kenaikan harga minyak dunia yang menembus US$105 per barel, dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan global akibat perang yang melibatkan Iran, negara Teluk, dan potensi penutupan Selat Hormuz.