Indonesia Targetkan E20 Paling Lambat 2028
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa penerapan E20 merupakan hasil evaluasi dari keberhasilan program biodiesel di Indonesia. Ia juga mengungkapkan pengamatannya di Brasil yang telah menerapkan mandatori E30, bahkan E100 di beberapa wilayah.
"Berangkatlah saya ke Brasil dan beberapa negara lain. Saya belajar, ternyata di Brasil itu sudah mandatory E30 bahkan di beberapa negara bagian sudah E100," ujar Bahlil.
Bioetanol dapat diproduksi dari beragam sumber daya alam yang melimpah di Indonesia seperti jagung, tebu, dan singkong. Pengembangan produksi bioetanol dalam negeri diproyeksikan akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan, terutama bagi sektor pertanian dan pembangunan daerah.
Produksi Dalam Negeri dan Potensi Impor Bioetanol
Untuk memenuhi kebutuhan bioetanol dalam program E20 yang diperkirakan mencapai 8 juta kiloliter per tahun, pemerintah juga akan mempertimbangkan opsi impor. Namun, langkah impor ini bersifat sebagai pelengkap sambil terus mendorong peningkatan produksi bioetanol dari dalam negeri.
Saat ini, kebutuhan impor BBM Indonesia mencapai sekitar 20 juta kiloliter. Dengan adanya program E20, diharapkan kebutuhan impor BBM dapat berkurang menjadi sekitar 12 juta kiloliter. "Kalau kita bikin etanol E20 berarti mandatorinya di 2028 delapan juta. Kalau sekarang kita impor 20 juta, kita mandatory 20 persen kurang 8 juta lagi. Jadi importir kurang tinggal 12 juta," jelas Bahlil.
Kebijakan ini telah melalui berbagai tahap uji coba dan dinyatakan layak untuk diterapkan. Beberapa negara seperti India, Thailand, dan Amerika Serikat juga telah lebih dulu mengadopsi program pencampuran etanol dalam BBM mereka. Saat ini, Indonesia telah memiliki produk E5, yaitu Pertamax Green dari Pertamina, yang merupakan bensin dengan campuran lima persen etanol.
Sumber : CNN Indonesia
