ZoyaPatel

Perang Iran Mengancam Ekonomi Global Tergelincir ke Stagflasi

Mumbai

UPBERITA.COM -  Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran global akan potensi stagflasi. Situasi ini mengacu pada kondisi ekonomi yang ditandai oleh inflasi tinggi yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang lesu.

Para pakar ekonomi dan analis pasar menilai ketakutan akan stagflasi muncul akibat kenaikan drastis harga minyak dan terganggunya jalur perdagangan internasional. Gangguan pada lalu lintas energi, khususnya melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia, berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak yang tajam. Fenomena ini mengingatkan pada krisis minyak tahun 1970-an yang memicu kenaikan biaya energi dan harga barang-barang lainnya.

Peristiwa ini berpotensi menciptakan skenario di mana biaya energi melonjak tajam, sementara pertumbuhan ekonomi global tetap tertekan, menciptakan realitas stagflasi.

Ancaman Stagflasi Global Akibat Eskalasi Konflik

Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat memicu masalah tambahan dengan meningkatkan biaya pengiriman maritim dan semakin mendorong laju inflasi.

Konflik ini juga dapat menimbulkan guncangan energi yang signifikan, mendorong harga minyak melampaui US$110 per barel jika eskalasi terus berlanjut. Meskipun angka tersebut belum mencapai rekor tertinggi, dampak terhadap inflasi global akan terasa nyata, mengingat sensitivitas kenaikan harga energi terhadap biaya konsumsi dan produksi.

Saat ini, harga minyak berjangka internasional telah menunjukkan lonjakan substansial. Kontrak minyak Brent bahkan sempat menembus kisaran US$79-80 per barel, jauh meningkat dari level awal tahun di sekitar US$61 per barel, yang mencerminkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Selain minyak, tekanan inflasi juga datang dari sektor energi lain. Harga gas acuan Eropa melonjak lebih dari 40% setelah serangan terhadap fasilitas energi di Qatar menghentikan produksi, memperkuat tekanan pada harga energi di pasar global.

Gangguan perdagangan menjadi kekhawatiran lain. Konflik ini dapat menjadi "guncangan terhadap perdagangan pada saat yang paling buruk", karena berbagai hambatan yang menyerang rantai pasok global, ditambah dengan hambatan logistik seperti penutupan wilayah udara Teluk. Hal ini berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi dunia di tengah ketidakpastian.

Dampak geopolitik di Timur Tengah juga mulai terasa di pasar keuangan. Imbal hasil obligasi pemerintah di beberapa negara utama mengalami lonjakan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi. Mata uang pasar berkembang, termasuk rupiah terhadap dolar AS, juga menunjukkan tekanan akibat kekhawatiran global.

Jika konflik terus berlanjut, kombinasi biaya energi yang lebih tinggi, gangguan logistik, dan penurunan kepercayaan bisnis dapat menjadi hambatan signifikan bagi pertumbuhan global, sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi. Dalam skenario terburuk, dunia bisa menghadapi kombinasi resesi ringan dan inflasi tinggi, yang merupakan ciri khas stagflasi, di tengah krisis energi yang berkepanjangan.


Ahmedabad