Dokter Anak Tekankan Pentingnya Pembatasan Durasi Layar untuk Tumbuh Kembang Optimal
Nilla Mayasari, yang berpraktik di Rumah Sakit Umum Hermina, menyatakan bahwa istilah "waktu layar" mencakup berbagai perangkat elektronik, tidak hanya ponsel pintar dan tablet, tetapi juga televisi. Ia menggarisbawahi bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah merilis penelitian mengenai batas penggunaan yang direkomendasikan.
Dokter Nilla menjelaskan bahwa penelitian WHO secara spesifik tidak menganjurkan anak di bawah usia satu tahun untuk menggunakan perangkat gawai, berdasarkan studi multidisiplin. Namun, kenyataan menunjukkan masih banyak orang tua memberikan akses gawai kepada anak-anak mereka, bahkan sebagai solusi saat anak rewel atau menolak makan.
Lebih lanjut, ia merinci rekomendasi durasi waktu layar: anak di bawah dua tahun sebaiknya tidak lebih dari satu jam per hari, yang dapat dibagi menjadi dua sesi, misalnya 30 menit di pagi hari dan 30 menit di sore hari. Untuk anak usia tujuh tahun ke atas, durasi yang disarankan juga serupa, yakni maksimal satu jam.
"Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa setiap penambahan 30 menit waktu layar, baik dari gawai maupun televisi, dapat meningkatkan risiko gangguan komunikasi sebesar 2,7 kali lipat, dan temuan ini telah dipublikasikan," ungkap Dokter Nilla.
Sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) Cabang Sulawesi-Papua, Nilla menyambut baik peraturan pemerintah terkait pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Kebijakan ini dianggap sejalan dengan rekomendasi WHO dan merupakan langkah perlindungan yang krusial.
Pembatasan waktu layar, menurut Nilla, tidak hanya membatasi aktivitas fisik anak, tetapi juga mendorong mereka untuk lebih banyak bermain di luar ruangan. Aktivitas luar ruangan sangat penting untuk mendukung fase tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan sensori dan interaksi sosial. "Dengan adanya aturan ini, tentu akan membantu anak-anak harus bermain keluar (tanpa gadget). Karena, bermain keluar itu ada aktivitas fisik yang berguna buat mereka pada fase tumbuhkembangnya," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa bermain di luar ruangan juga melatih anak untuk belajar sensori dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, bukan terisolasi dalam dunianya sendiri. Keputusan pemerintah ini selaras dengan rekomendasi berbagai organisasi profesi, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
"Memang anak-anak itu adalah waktunya bermain. Karena di situlah proses belajar, proses input sensori dengan temannya, dengan lingkungannya, ini menjadi proses untuk kebutuhan intelektual nanti," papar dia.
Paparan layar yang berlebihan dapat berdampak negatif pada pertumbuhan anak, memengaruhi rentang perhatian (attention span) mereka, dan menyebabkan ketidakfokusan akibat konten yang terpapar di media sosial.
Sebagai pembina Komunitas Orang Tua Anak dengan Sindroma Down (KOADS), Nilla menekankan pentingnya orang tua memantau tumbuh kembang anak sesuai dengan tahapan usianya (milestone). "Kita tidak boleh kehilangan fase emas anak. Sebenarnya, orang tua mesti memiliki buku pink (merah jambu) bagi anak balita. Bisa dilihat, apakah anaknya sesuai atau tidak. Ketika milestone dari perkembangan bicara, komunikasi, interaksi, atau pun kognisi tidak sesuai, segera periksakan," sarannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya identifikasi dini untuk prognosis perkembangan anak. Pengawasan orang tua memegang peran kunci, serta pentingnya waktu keluarga (family time) sebagai sarana belajar anak, bukan hanya mengandalkan sekolah atau pengasuh.
Sumber : Antara
