Harga Minyak Mentah Lampaui US$107 Akibat Macetnya Dialog AS-Iran
Menurut data Reuters, harga minyak berjangka Brent naik 2,05 persen atau $2,16 menjadi $107,49 per barel, mencapai level tertinggi sejak 7 April. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat sebesar $96,17 per barel, menguat 1,88 persen atau $1,77.
Kenaikan ini melanjutkan penguatan signifikan pekan lalu, di mana Brent dan WTI masing-masing melonjak hampir 17 persen dan 13 persen, mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak awal konflik.
Peluang untuk menghidupkan kembali upaya perdamaian menipis setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusannya ke Islamabad. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi tetap melanjutkan kunjungannya ke Pakistan.
Analisis Dampak Geopolitik terhadap Pasar Energi
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menyatakan bahwa langkah ini menempatkan Iran di bawah tekanan. Ia menambahkan bahwa Iran berpotensi terpaksa menghentikan produksi dari ladang minyak tuanya jika kapasitas penyimpanan penuh.
Ketegangan geopolitik turut memengaruhi jalur distribusi energi global. Iran dilaporkan telah menutup sebagian besar Selat Hormuz, sementara Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Data pengiriman dari Kpler mengindikasikan lalu lintas melalui Selat Hormuz tetap terbatas, dengan hanya satu kapal tanker produk minyak yang memasuki Teluk pada Minggu.
Dalam konteks ini, Goldman Sachs merevisi naik proyeksi harga minyak untuk kuartal keempat menjadi $90 per barel untuk Brent dan $83 untuk WTI, dengan alasan penurunan produksi dari kawasan Timur Tengah. Analis Goldman Sachs yang dipimpin Daan Struyven menyebutkan bahwa risiko ekonomi lebih besar dari perkiraan dasar, mengingat potensi kenaikan harga minyak, tingginya harga produk olahan, risiko kekurangan pasokan, serta skala guncangan yang terjadi.
Sumber : CNN Indonesia
