Rupiah Melemah Tipis Akibat Tingginya Harga Minyak Global
Menurut Rully Nova, seorang analis dari Bank Woori Saudara, pelemahan rupiah ini sebagian besar dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang masih bertahan tinggi.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.690 - Rp17.740 dipengaruhi oleh faktor global harga minyak yang masih di atas 100 dolar AS per barel dan index dollar yang masih kuat," jelas Rully.
Kondisi ini terjadi di tengah tren penurunan harga minyak mentah global. Harga Brent berjangka dilaporkan turun sekitar 6,5 persen menjadi 104,5 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 5,5 persen menjadi 98 dolar AS per barel. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan berakhirnya perang dengan Iran dan data penurunan persediaan minyak AS yang signifikan.
Faktor Pendukung Pelemahan Rupiah
Sentimen penurunan harga minyak global dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan bahwa negosiasi dengan Iran terus berlanjut dan ada kemungkinan kesepakatan segera tercapai, yang berpotensi mengakhiri perang. Selain itu, persediaan minyak mentah AS dilaporkan mengalami penurunan paling drastis dalam sejarah pekan lalu. Hal ini disebabkan oleh lonjakan ekspor yang mengurangi cadangan domestik, hingga stok minyak mentah turun sebesar 17,8 juta barel, membawa total persediaan ke level terendah dalam hampir satu tahun.
Dari sisi domestik, Rully Nova menyoroti bahwa kondisi fiskal pemerintah dinilai cukup rentan terhadap dinamika geopolitik, fluktuasi harga minyak, kebijakan subsidi, dan insentif yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat. "Pidato presiden (Prabowo Subianto) masih harus dicermati lebih mendalam lagi dengan kondisi fiskal yang rapuh saat ini mengingat tax ratio Indonesia tidak pernah beranjak di atas 10 persen dari GDP (Gross Domestic Product)," ungkap Rully.
