ZoyaPatel

Aktivitas Kreatif Berkontribusi pada Keterlambatan Penuaan Otak

Mumbai
 



UPBERITA.COM -  Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa partisipasi aktif dalam berbagai kegiatan kreatif berpotensi signifikan dalam memperlambat proses penuaan otak, terutama bagi individu di usia lanjut. Temuan ini diperkuat oleh peneliti dari SWPS University di Polandia yang mengamati bahwa keterlibatan rutin dalam aktivitas seperti menari, membaca, atau bermain gim video tidak hanya mendukung fungsi otak, tetapi juga berkorelasi dengan usia otak yang lebih muda.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications ini menganalisis data kesehatan komprehensif, termasuk pencitraan saraf, dari lebih dari 1.400 partisipan dari 13 negara. Sebagian dari partisipan ini adalah individu yang telah menguasai keahlian khusus dalam bidang seperti menari tango, bermusik, seni visual, dan permainan strategi.

Menurut Aneta Brzezicka, psikolog dan Kepala Center for Neurocognitive Research SWPS University, aktivitas kreatif secara inheren melibatkan berbagai elemen yang bermanfaat bagi otak. "Aktivitas tersebut menuntut kemampuan kognitif, melibatkan emosi, sering bersifat sosial, serta membutuhkan koordinasi motorik halus," jelasnya.

Untuk mengukur tingkat penuaan otak, para peneliti memanfaatkan model komputasi yang dikenal sebagai "brain clock". Model ini memperkirakan usia otak berdasarkan pola aktivitas listrik otak yang terekam melalui Elektroensefalogram (EEG) dan Magnetoensefalografi (MEG). Apabila usia otak yang diprediksi lebih rendah dari usia kronologis partisipan, hal ini mengindikasikan proses penuaan otak yang lebih lambat, yang kemudian dikenal sebagai "brain age gap".

Temuan Kunci dalam Studi Keterlibatan Kreatif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan yang secara konsisten terlibat dalam kegiatan kreatif menunjukkan usia otak yang lebih muda jika dibandingkan dengan kelompok pembanding. Efek yang paling menonjol teramati pada individu yang telah mengembangkan dan memelihara keterampilan kreatif mereka selama bertahun-tahun. "Di semua bidang yang diteliti, para ahli memiliki pola aktivitas otak yang dinilai sekitar empat hingga tujuh tahun lebih muda dibandingkan individu lain dengan usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan yang sama," ujar Brzezicka.

Manfaat serupa juga terdeteksi pada partisipan yang mengikuti program pelatihan jangka pendek. Dalam studi yang berfokus pada pelatihan gim strategi, partisipan yang berlatih selama kurang lebih 30 jam mengalami penurunan usia otak sekitar tiga tahun, disertai dengan peningkatan pada aspek perhatian dan kinerja kognitif.

Para peneliti menyimpulkan bahwa otak orang dewasa menunjukkan tingkat plastisitas yang tinggi dan mampu mengalami perubahan terukur dalam periode waktu yang relatif singkat. Hal ini dipertegas oleh Raphael Wald, neuropsikolog dari Marcus Neuroscience Institute, yang menyatakan bahwa temuan ini menggarisbawahi pentingnya menjaga aktivitas mental melalui beragam kegiatan. Menurutnya, kreativitas memegang peranan krusial karena mendorong cara berpikir yang abstrak dan fleksibel.

Sementara itu, Megan Glenn, neuropsikolog klinis dari Hackensack Meridian Neuroscience Institute, menilai temuan ini menyoroti pentingnya membangun cadangan kognitif sejak usia dini. Ia menambahkan bahwa pengembangan minat kreatif dapat menjadi investasi jangka panjang yang berharga untuk kesehatan otak.

Para ahli merekomendasikan masyarakat untuk memilih aktivitas kreatif yang mereka nikmati agar dapat dilakukan secara berkelanjutan. Penting untuk dicatat bahwa aktivitas ini tidak harus dilakukan secara profesional untuk memberikan dampak positif yang signifikan terhadap fungsi kognitif.

Ahmedabad